Gotong royong merupakan salah satu sifat yang lekat dengan kehidupan masyarakat di Jawa. Gotong royong juga telah menjadi cerminan bagaimana kehidupan di Jawa selalu mengedepankan kebersamaan dan kerukunan. Kepedulian terhadap gotong royong ini perlu dibentuk kepada setiap individu yang ada, tidak terkecuali para pemuda. Pemuda di Dusun Drono melalui tradisi sinoman telah menggambarkan bagaimana gotong royong dapat masuk ke dalam segala bentuk aktivitas.
Sinoman merupakan sebuah tradisi yang biasanya dilakukan oleh para pemuda untuk membantu keluarga yang sedang memiliki hajat pernikahan. Melalui sinoman inilah, partisipasi para pemuda dapat mengaplikasikan perwujudan gotong royong sebagai masyarakat yang hidup di pedesaan Jawa. Tulisan ini berusaha untuk menelusuri bagaimana tradisi sinoman sebagai perwujudan sikap gotong royong dapat dimaknai oleh pemuda sebagai masyarakat yang hidup di pedesaan Jawa. Melalui observasi partisipasi dan wawancara dengan empat pemuda, hal tersebut dapat memperkuat data temuan yang ada.
Penelitian ini dilakukan sejak bulan September 2020 sampai bulan Juni 2021. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk memahami posisi alasan pemuda untuk mendorong mereka menerapkan dan memaknai hal tersebut. Dengan menggunakan pendekatan teori pertukaran sosial, penulis ingin menjabarkan bagaimana usaha para pemuda untuk dapat diakui dan diterima oleh masyarakat dan teman-teman sebaya mereka. Hasilnya para informan memaknai keikutsertaan dalam sinoman yaitu sebagai perlindungan mereka terhadap ancaman "ora srawung rabimu suwung". Kesadaran yang dimunculkan melalui sinoman tersebut adalah gambaran bagaimana kehidupan di desa penuh akan ancaman dan tensi yang tinggi. Dengan demikian, apa yang telah pemuda lakukan, pada akhirnya mereka mendapatkan sebuah perilaku timbal balik dan pengakuan dari masyarakat dan teman-teman sebayanya.







0 komentar:
Posting Komentar